Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam Dengan Para Tetangga
Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam Dengan Para Tetangga
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat memuliakan para tetangga. Tetangga memiliki kedudukan yang agung dalam kehidupan beliau. Beliau pernah berkata:
“Malaikat Jibril alaihissalam senatiasa mewasiatkan agar aku berbuat baik kepada tetangga, sehingga aku mengira ia (Jibril) akan memberikan hak waris (bagi mereka).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Beliau mewasiatkan Abu Dzar radhiallaahu anhu:
“Wahai Abu Dzar, jika engkau memasak makanan, perbanyaklah kuahnya, janganlah engkau lupa membagikannya kepada tetanggamu.” (HR. Muslim)
Beliau juga memperingatkan dari bahaya mengganggu tetangga. Beliau bersabda:
“Tidak akan masuk Surga orang yang tidak merasa aman tetangganya dari kejahatannya.” (HR. Muslim)
Oleh sebab itu, hendaklah kita senantiasa berlaku baik kepada para tetangga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, hendaklah ia berlaku baik kepada tetangganya.” (HR. Muslim)
Sekolah Hidup Susah

Sekolah Hidup Susah
Handrawan Nadesul
Untuk menjadi kaya, semua orang bisa instan melakoni.
Namun, tidak siapa saja siap menjadi orang susah.
Orang miskin baru kian banyak. Penganggur baru
Menambah bengkak angka kemiskinan. Bisa jadi, itu
Sebabnya, selain angka bunuh diri tinggi, tiga dari
Sepuluh orang Indonesia tercatat terganggu jiwanya.
Tidak siap hidup susah berisiko sakit jiwa. Ada cara
Sederhana menekan risiko sakit jiwa. Sejak kecil anak
Dibuat tahan Banting. Ketahanan jiwa anak harus
Dibangun. Untuk itu, jiwa butuh “imunisasi”.
Menerima kenyataan
Sejak kecil anak diajar lebih membumi. Yang gagal kaya
Real menerima kenyataan. Yang belum pernah hidup susah
Diajar prihatin sedari kecil. Kendati kecukupan, tidak
Semua yang anak minta perlu diberi. Anak dilatih
Merasakan kegagalan.
Tugas orangtua Dan guru mengajak anak berempati pada
Kesusahan orang lain. Hidup tak luput dari berbagai
Stresor. Tak semua stresor jelek. Supaya jiwa tahan
Banting, stresor dibutuhkan. Anak perlu mengalami
Seperti apa tekanan hidup, konflik, kegagalan, rasa
Kecewa, Dan krisis dalam hidup. Seperti vaksin,
Biasakan anak memikul aneka stresor yang bikin jiwanya
Kebal seandainya kelak hidupnya susah.
Tanpa dilatih hidup susah, anak yang terbiasa hidup
Berkecukupan tak tahan Banting. Lebih banyak orang
Sukses lahir bukan dari keluarga kecukupan. Hidup
Prihatin membuat jiwa tegar bertahan melawan
Kesusahan. Hidup susah membangun mimpi ingin lepas
Dari rasa kapok menjadi orang susah. Demi mengubah
Mimpi jadi kenyataan, spirit kerja keras pun dipecut.
Einstein percaya, untuk sukses diperlukan lima persen
Otak, selebihnya keringat (perspirasi) . Spirit kerja
Keras menjadi milik orang yang tak pernah puas pada
Prestasi yang diraih. Seperti bangsa Troya dulu,
Pembangunan Jepang Dan Korea lebih pesat ketimbang
Bangsa sepantar karena memiliki “virus” n-Ach
(need-for-Achieveme nt) yang tinggi.
“Virus” n-Ach bisa ditularkan kepada anak lewat asuhan
Dan pendidikan. Bacaan memuat nilai kehidupan,
Termasuk mendongeng, pendidikan berdisiplin, Dan
Keteladanan orang lebih tua. Itu modul-modul kehidupan
Agar anak tahu juga hidup susah.
Jiwa getas
Kebiasaan meloloh anak dengan kelimpahruahan tidak
Melatih anak merasakan gagal, kecewa, rasa ditekan,
Rasa konflik, atau rasa krisis. Tanpa tempaan stresor,
Jiwa getas. Jika jiwa getas, orang rentan stres. Bila
Tak terlatih hidup berdamai dengan stres, hidup
Berisiko gagal andai harus jatuh miskin.
Tak Ada sekolah yang mengajarkan menjadi orang miskin.
Tak pula Ada kursus memampukan anak terbiasa hidup
Berdamai dengan stres. Yang bisa Kita lakukan adalah
Mengasuh Dan mendidik anak tahan Banting. Mandat itu
Harus Ada di pundak setiap orangtua.
Tidak semua anak kecukupan pernah mengalami stresor.
Dalam pendidikan modern, anak sengaja dihadapkan pada
Stresor buatan. Ada pelatihan diam-diam, dalam suasana
Berkemah atau outbound diciptakan situasi krisis.
Mobil sengaja dibuat mogok di tengah hutan pada malam
Hari, atau kehabisan makanan selagi camping.
Dihadang stresor buatan, anak dilatih bagaimana
Bereaksi, beradaptasi, agar mampu lolos dari rasa
Panik, rasa takut, rasa tidak enak berada dalam
Situasi darurat. Ini bagian dari upaya membuat kebal
Jiwa anak. Bila jiwa tak tahan Banting, sontekan stres
Kecil mungkin diatasi dengan bunuh diri. Kini semakin
Banyak kasus bunuh diri hanya karena alasan enteng.
Gara-gara ditinggal pacar, tidak naik kelas, sebab
Jiwa tak terlatih memikulnya. Maka jiwa perlu
Digembleng.
Kerja keras
Menggembleng berarti menunjukkan rasa arah hidup
Prihatin, selain berdisiplin. Hidup berdisiplin
Berarti menjunjung tinggi kebenaran, memikul tanggung
Jawab, kerja keras, serta mampu menunda kepuasan.
Menunda kepuasan bentuk keunggulan sebuah bangsa.
Bangsa unggul memiliki “virus” n-Ach tinggi. Anak yang
Diasuh Dan dididik dengan nilai-nilai “virus” n-Ach,
Menyimpan bekal sukses. Itu kelihatan, misalnya, dari
Cara makan. Anak dengan n-Ach tinggi menyisihkan yang
Enak dimakan belakangan, yang tidak enak dimakan dulu.
Tugas berat dikerjakan dulu, yang enteng belakangan.
Bersakit-sakit dulu bersenang-senang kemudian menjadi
Kredo bangsa yang sukses.
Agar tahu hidup susah, anak diajak memahami bahasa
Hidup bukan uang semata. Tak semua semerbak kehidupan
Bisa dipetik dengan uang. Kebahagiaan tertinggi hanya
Terpetik setelah orang mampu merasa bersyukur meski
Cuma menjadi orang biasa (mengutip Gede Prama).
Sukses hidup sejati tak mungkin terpetik instan. Jiwa
Potong kompas, ingin lekas kaya, tumbuh dari budaya
Instan. Bukan rasa arah yang benar saja yang perlu
Ditanamkan saat membesarkan anak, tetapi harus benar
Pula menempuhnya di Mata Tuhan.
Anak disiapkan menjadi insan linuwih (terinternalisasi
Penuh superegonya) dengan cara mengempiskan egonya
Sekecil mungkin. Rekayasa sosial (social engineering)
Diperlukan dengan menyuntikkan “vaksin” hidup
Prihatin. Perlu pula penyubur superego agar kendati
Hidup susah masih merasa bahagia.
Hanya bila bibit linuwih dipupuk sejak kecil,
Sekiranya hidup susah tak tergoda memilih serong.
Kendati tak banyak harta, uang, atau kuasa, ke arah
mana pun hidup memandang, merasa tetap “kaya”. Mampu
legawa, bersyukur, dan merasa berbahagia sudah pula
meraih Oscar kehidupan, kendati mungkin hanya menjadi
orang biasa.
HANDRAWAN NADESUL Dokter, Penulis Buku, Pengasuh
Rubrik Kesehatan
سالام صْلِحِين
Setahun adalah sebatang pohon
Setahun adalah sebatang pohon, bulan adalah dahan-dahannya, hari adalah ranting-rantingnya, jam adalah dedaunannya, dan napas adalah buahnya. Siapa yang napasnya ada dalam ketaatan, maka buah pohon itu adalah manis. Dan siapa yang napasnya ada dalam kedurhakaan, maka buahnya adalah pahit. Waktu panen adalah pada hari kiamat. Pada waktu panen itulah akan diketahui secara pasti apakah buah itu manis atau pahit.
Ikhlas dan tauhid merupakan pohon dalam hati. Dahan-dahannya adalah amal, buahnya kemanisan hidup di dunia dan kenikmatan yang kekal di akhirat. Sebagaimana buah-buah surga yang tidak pernah terputus dan tidak sulit untuk dipetik, maka begitu pula buah tauhid dan ikhlas di dunia.
Syirik, dusta dan riya’ adalah pohon di dalam hati. Buahnya di dunia adalah ketakutan, kekhawatiran, kesusahan, kesempitan dada dan kegelapan hati. Buahnya di akhirat adalah neraka dan adzab yang pedih lagi kekal. Allah telah menyebutkan dua jenis pohon ini di dalam surat ibrahim ayat 24-26.
’Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya [menjulang] ke langit, poho itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Robb-nya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan bagaimana pohon yang buruk seperti kalimat yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi, tidak dapat tetap [tegak] sedikitpun’
Hello world!
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!